TrippersTrip Bag 4 : Mengulik Batam

Di bagian Ketiga TrippersTrip yang lalu, Kang Wawan dan Tim Trippers… berkesempatan melakukan rangkaian trip seru yang dimulai dari Malaysia, Singapore lalu mampir ke Tanjung Balai Karimun dan berakhir di Batam. Kuala Lumpur, menjadi kunjungan pertama tim, lalu lanjut ke Singapura, setelah itu ke Tanjung Balai Karimun dan kini mendarat di Batam. Yuk simak bagian akhir dari cerita, “Traveling Seru ke Kuala Lumpur, Singapore, Karimun dan Batam…” di bagian keempat ini…

Selamat Datang di Batam

Kami kini telah meninggalkan Pulau Karimun dan Kapal Feri yang membawa kami pun, telah merapat di Batam. Harbour Bay Batam kini tidak hanya sekedar menjadi pelabuhan penumpang Batam-Singapura saja, tapi sudah menjadi kawasan bisnis dan wisata kuliner di tengah kota Batam.

suasana di dalam Harbour Bay Batam

Letaknya yang hanya 5 menit dari pusat kota Sei Jodoh dan Nagoya, membuat pelabuhan ini makin diminati pengunjung. Karena jarak dari Batam ke Singapura hanya 30 menit menggunakan feri yang berangkat tiap jam.

Penumpang yang menggunakan pelabuhan ini lebih dari 45.000 orang tiap bulan, pulang pergi Batam – Singapura. Sejak berdiri dan beroperasi pada 2006 silam yang lalu, kini pelabuhan makin ramai pengunjung dan makin lengkap fasilitas pelayanannya. Termasuk taksi dan ojek sebagai transportasi utama, untuk antar jemput penumpang ke pelabuhan ini.

Setelah merapat. Kami sempatkan istirahat sejenak dan menikmati beberapa cemilan. Salah satu panganan yang kami coba adalah Prata. Mirip dengan martabak telur sih kalau di Jakarta. Dinikmati dengan cara mencelupkannya di kari terlebih dahulu. Enak rasanya….

Prata

Agenda berikutnya adalah menuju pusat kota. Ada beberapa pertemuan yang perlu kami lakukan. Setelah selesai acara, kami pun meneruskan petualangan hari ini di Batam. Mengingat tiket pesawat pulang kami baru besok berangkat, jadi kami kembali ke hotel dulu dengan mobil yang telah kami sewa untuk seharian ini, beristirahat sejenak, lalu kembali ke jalanan kota Batam. Oiya, saat melewati pusat kota kami melihat beberapa ornamen menarik penghias kolong jembatan, keren deh…

Baca juga : Bagian 1 – Traveling Seru ke Singapore, Karimun dan Batam

Jembatan Barelang

Agenda singkat kali ini kami akan mengunjungi Ex Camp Vietnam di Pulau Galang, mengingat banyaknya sejarah terpendam di tempat ini. Perjalanan kami cukup jauh dan lama. Dalam perjalanan, kami sempat melewati Jembatan Barelang Batam yang ternama itu.

Jembatan Barelang

Jembatan Barelang (singkatan dari BAtam, REmpang, dan gaLANG) adalah nama jembatan yang menghubungkan pulau-pulau yaitu Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Masyarakat setempat menyebutnya “Jembatan Barelang”, namun ada juga yang menyebutnya “Jembatan Habibie”, karena dia yang memprakarsai pembangunan jembatan itu untuk menfasilitasi ketiga pulau tersebut yang dirancang untuk dikembangkan menjadi wilayah industri di Kepulauan Riau. Ketiga pulau itu sekarang termasuk Provinsi Kepulauan Riau.

Jembatan Barelang kini telah menjadi ikon Kota Batam, bahkan telah populer sebagai landmark-nya Pulau Batam. Apabila Kota Jakarta identik dengan Monas, maka orang akan mengidentikan Kota Batam dengan Jembatan Barelang (Barelang Bridge).

Satu setengah jam lebih kami lalui dalam perjalanan menuju Pulau Galang. Camp Vietnam Pulau Galang dulunya adalah tempat pengungsian warga Vietnam yang mencari perlindungan. Hmmm… seperti apa ya tempatnya?

Baca juga : Bagian 2 – Traveling Seru ke Singapore, Karimun dan Batam

Camp Vietnam Pulau Galang

Puluhan tahun lalu, sekitar tahun 1979, ratusan ribu warga Vietnam pergi keluar dari negaranya karena kondisi negaranya yang mencekam akibat perang saudara. Dengan menggunakan kapal-kapal yang berisikan 40-100 orang, mereka mengarungi Laut Cina Selatan dan menyebar ke berbagai belahan dunia selama berbulan-bulan untuk mencari tempat perlindungan. Beberapa di antaranya sampai ke Indonesia, tepatnya di Pulau Galang tersebut. Sebagian lagi ada yang gagal mencapai daratan karena perahu mereka tenggelam di tengah lautan.

Kaburnya warga Vietnam ini ternyata mendapat perhatian khusus dari PBB. Hingga akhirnya PBB memberikan amanat kepada beberapa negara, termasuk Indonesia, untuk memberikan tempat pengungsian dalam kurun waktu tertentu. Karena para warga Vietnam ini banyak yang sudah sampai di Pulau Galang, maka ditunjuklah pulau Galang sebagai tempat pengungsian mereka di Indonesia. Untuk menunjang kehidupan warga Vietnam di sana, dibangunlah barak-barak pengungsian, rumah sakit, sekolah, tempat-tempat ibadah, dan juga penjara.

Sore hari kami baru tiba. Sayang sekali ternyata loket pembelian sudah tutup. Tidak hilang akal, kami pun menyewa 2 ojek remaja di sekitar lokasi. Petualangan pun berlanjut. Nuansa sunyi mencekam sangat terasa. Pohon-pohon besar, semak-semak lebat, serta monyet-monyet liar mewarnai perjalanan kami menuju ke dalam.

Kami sempat mengunjungi perahu atau replika perahu yang konon dahulu membawa para pengungsi. Disampingnya ternyata terdapat kandang rusa. Kami juga melewati Humanity Statue, Gereja tua dan pagoda Chua Ky Vien, serta pagoda Quan Am Tu. Objek wisata lainnya hanya kami lewati saja, seperti penjara, barak pengungsian, pemakaman, dan rumah sakit.

Menjelang maghrib, kami bergegas pergi. Semakin menyeramkan suasananya, atau memang kami saja yang belum terbiasa. Keluar dari kawasan, hati pun lega. Masuk mobil dan kembali menuju pusat kota Batam. Sudah saatnya mengisi perut dan membeli sedikit oleh-oleh.

Bukit Clara

Hari keenam. Saatnya pulang. Jadwal keberangkatan pesawat kami masih jam 2 siang nanti. Bangun agak siangan, packing dan bersiap pulang. Cari sarapan di sekitar Harbour Bay Mall. Semua serba dekat. Mudah dijangkau dengan hanya berjalan kaki saja. Kantin di belakang Mall pun menjadi pilihan kami. Makanan nikmat dengan harga terjangkau, apalagi kalo bukan nasi padang…. hahahaha….

Setelah sarapan kami putuskan untuk segera berangkat ke bandara, tapi tak lengkap rasanya jika belum mengunjungi Area Batam Center dimana terdapat bukit “Welcome To Batam” serta melipir sebentar ke Masjid Raya Batam yang memiliki desain arsitektur yang memikat.

Grab Taxi pun kami pesan, tapi… ups, ternyata GrabCar tidak boleh masuk ke lingkungan hotel, apalagi barang bawaan kami cukup banyak. Alhasil pakai sedikit tipu muslihat. Grabcar kami pun tetap bisa datang dengan “selamat”. (Untuk caranya off the record saja ya, hahaha).

Batam Center menjadi tujuan awal kami. Bukit “Welcome to Batam”, Landmark ala Hollywood di Bukit Clara Batam. Tulisan yang berfungsi untuk memperkenalkan dan menyambut wisatawan di Pulau Batam ini terletak di Bukit Clara Batam Center, 300m dari atas daratan Engku Peteri.

Pemerintah setempat pun melarang pendirian gedung yang melebihi tinggi dari tulisan ini agar tidak mengganggu wisatawan yang akan melihatnya secara langsung. Sayangnya di tahun 2014 bukit ini hampir mengalami kelongsoran yang berdampak pada tulisan pada Bukit Welcome to Batam. Kelongsoran ini terjadi karena adanya aktifitas pengerukan di bukit, sehingga pemerintah turun tangan untuk menghentikan aktifitas pengerukan agar tidak merusak ikon dari Batam.

Baca juga : Bagian 3 – Traveling Seru ke Singapore, Karimun dan Batam

Masjid Raya Batam

Setelah puas berselfie ria di bawah terik matahari, kami mampir ke Masjid Raya Batam. Masjid Agung Batam atau disebut Masjid Raya Batam (MRB) ini memiliki kubah dengan bentuk unik yang berdesain limas segi empat atau seperti piramida. Masjid ini dilengkapi dengan menara setinggi 66 m.

Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Batam. Masjid ini terletak di Jalan Engku Putri Kota Batam. Masjid Raya Batam berada di kawasan Batam Center yang merupakan pusat pemerintahan kota Batam. Berhadap-hadapan dengan kantor Badan Otorita Pengembangan Pulau Batam atau BIDA (Batam Industrial Development Authority). Letak cukup strategis yaitu bersebelahan dengan alun-alun atau berjarak sekitar 20 menit dari Bandara Hang Nadim, jadi tak sulit untuk menemukan masjid ini.

Masjid ini memiliki kubah dengan bentuk unik yang berdesain limas segi empat atau seperti piramida. Bentuk limas sama sisi (teriris tiga bagian) dipilih dengan pertimbangan bahwa bentuk atap yang cocok untuk denah bangunan bujur sangkar, mempunyai persepsi vertikalisme menuju satu titik di atas sebagai simbol hubungan antara manusia dan Tuhan (habluminallah). Sedangkan Irisan tiga bagian merupakan simbol perjalanan hidup manusia (sebagai hamba Allah) dalam tiga alam yaitu alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat.

Nahhhhh… saatnya menuju Bandara Hang Nadim Batam, untuk terbang pulang. Penuh sudah catatan perjalanan kali ini. Kuala Lumpur yang tertib dan nyaman, Singapura yang bersih dan elegan, Tanjung Balai Karimun yang eksotis serta Batam yang tak terlupakan, membuat kami ingin segera kembali ke Jakarta. Kami sudah terlalu rindu, ingin kembali merasakan kebisingan dan kemacetan di Jakarta tercinta. (wan)

Oleh : Rachmat Kurniawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *