TrippersTrip Bag 3 : Traveling Seru ke Singapore, Karimun dan Batam

Di bagian Kedua TrippersTrip yang lalu, Kang Wawan dan Tim Trippers… berkesempatan melakukan rangkaian trip seru yang dimulai dari Malaysia, Singapore lalu mampir ke Tanjung Balai Karimun dan berakhir di Batam. Kuala Lumpur, menjadi kunjungan pertama tim, lalu lanjut ke Singapura.  Yuk simak kelanjutan dari cerita, “Traveling Seru ke Kuala Lumpur, Singapore, Karimun dan Batam…” di bagian ketiga ini…

Berkunjung ke Merlion Park

Stasiun MRT dan LRT Singapore sangatlah dekat dari penginapan kami. Bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki saja. Dengan mesin tiket, kami tinggal tentukan tujuan. Kali ini tiket berbentuk Card. Yang bisa dipakai untuk beberapa kali. Peta MRT dan LRT pun telah siap di tangan kami. Tapi sebenarnya… akan lebih simple jika kamu beli aja kartu langganan sepert EZ-Link atau Singapore Tourist Pass untuk naik MRT. Jadi ngga perlu bolak balik lagi ke mesin tiket.

Tujuan pertama kami adalah Merlion Park yang ada patung singa putihnya itu loh. Perjalanan pun dimulai dengan aktivitas fisik : naik turun anak tangga stasiun yang luarrrrr biasaaaaa banyaknya. Belum lagi saat di persimpangan interchange, kita harus pindah kereta. Itu semua membuat betis kami berdua mengalami perubahan bentuk yang sangat “signifikan”. Jadi teman-teman jangan lupa ya untuk selalu sedia koyo dan obat pegal linu…. (hehehe)

Sampai di Merlion Park – Marina Bay suasana sudah mulai menjelang malam. Ketika melihat patung singa yang bagian badannya berbentuk ikan, anda pasti akan langsung teringat dengan negara Singapore. Patung Merlion ini memang menjadi lambangnya negara Singapura. Patung ini berada di Merlion Park, di tengah kota Singapura. Dikelilingi oleh gedung tinggi dan terletak di samping Singapura river.

Dibuat pada tahun 1964. Patung Merlion ini berbentuk kepala singa yang memiliki badan ikan. Dirancang oleh Mr. Fraser Burnner. Dia adalah anggota dari panitia souvenir dan kurator dari van kleef aquarium. Bentuk kepala singanya, melambangkan dari singa yang pernah dilihat oleh pangeran Sang Nila Utama. Ketika ia pertama kali menemukan Singapura pada tahun 11 Masehi. Lalu badan ikannya berasal dari sejarah bangsa melayu. Ekor ikan mengartikan kota kuno Temasek. Dalam bahasa jawa artinya laut. Pertama kali ditemukan, negara Singapura diberi nama kota singa, yang merupakan kampung dari para nelayan.

Ada banyak tempat wisata di sekitar area Merlion Park, Singapura. Disana ada Jubilee Bridge, Esplanade Bridge, Bumboat River Tour, The Fullerton Monument Tour, Anderson Bridge, Helix Bridge, Gandens by The Bay dan masih banyak lainnya. Juga banyak sekali tempat wisata yang gratis di Singapura. Kami pun sempat menyaksikan pertunjukan sinar laser yang spektakuler. Lalu juga sempat menonton konser mini yang letaknya tak jauh dari Merlion statue. Ngga cukup satu harian deh, kalo mau puas berwisata di sekitar Merlion Park.

Apa yang terbersit di kepala kami saat melihat Kota Singapura, khususnya di wilayah Marina Bay? Bersih, nyaman, teknologi tinggi, memanjakan turis, konsep kota yang sesuai untuk wisata, semua sudut memanjakan mata, ratusan spot selfie, tak ada kaki lima, semua tertata baik dan tertib. Oh iya, ada beberapa kebiasaan yang perlu kita contoh baik dari warga Malaysia maupun Singapura. Dalam hal naik LRT dan MRT, masyarakat sana selalu membiasakan diri tertib, dimana mereka selalu mendahulukan orang yang keluar kereta daripada yang masuk. (Beda banget sama KRL negri ane…). Lalu di tangga eskalator, untuk mereka yang tidak terburu-terburu akan selalu menempatkan diri di lajur samping kiri. Jadi lajur kanan bisa digunakan orang yang sedang bergegas (Beda bingits kan…).

Ada lagi, di Singapura ini khususnya di wilayah-wilayah tempat berkumpulnya turis akan sering ditemukan sepeda-sepeda yang terparkir begitu saja. Asyik loh bisa naik sepeda kapanpun, dimanapun… tinggal download aplikasinya, lalu scan Barcode… teetttt… sepeda langsung bisa dipakai ngacirrrrr.

Bike sharing dengan mobike, dan ofo singapore merupakan fasilitas sepeda umum yang bisa kita gunakan kapanpun saat kita membutuhkannya di Singapura. Kita hanya perlu mendownload aplikasi bike sharing seperti mobike, dan ofo di ponsel pintar kita. Bike sharing adalah sistem sewa sepeda umum yang pembayarannya dan cara menggunakannya bisa kita lakukan secara online. Kita mendowload aplikasi, mengisi saldo, kemudian kita scan kode sepeda pada layar aplikasi kita untuk membuka kunci sepeda dan kita siap bersepeda berkeliling kota di Singapura. Keren kan…

Berkunjung ke Sentosa Island

Pagi ini kami sudah bangun lebih awal. Karena padatnya jadwal. Kami putuskan pagi ini untuk mengunjungi Sentosa Island terlebih dahulu. Sebenarnya, Pulau Sentosa sendiri merupakan benteng militer Inggris selama perang dunia kedua. Senjata-senjata disimpan di benteng Siloso dan dijaga untuk melindungi pulau dari penjajahan Jepang. Sebab Inggris berpikir dari bagian selatan ini pulau Sentosa akan terjaga dengan damai, namun sayang tentara Jepang kemudian melakukan penyerangannya lewat bagian utara Singapura (Malaysia).

Setelah Inggris memberi kemerdekaan pada Singapura pada tahun 1960, kemudian menyerahkan Pulau Sentosa pada Angkatan Bersenjata Singapura. Dan sepuluh tahun kemudian tepatnya 1970, Pemerintah Singapura memutuskan untuk mengembangkan pulau ini menjadi tempat hiburan bagi wisatawan lokal. Tahun 1974, pemerintah Singapura membangun sistem cable car untuk menghubungkan Pulau Sentosa dengan Mount Faber dan dibukanya Fort Siloso, Surrender Chamber Wax Museum, Musical Fountain dan Underwater World. Tahun 2005 Sentosa Express masuk dalam rencana pemerintah untuk menggantikan kebutuhan monorel untuk komunikasi internal di Pulau Sentosa.

Untuk menuju pulau ini, kami memilih transportasi termurah, yaitu… berjalan kaki (hahaha… gue banget yah). Sebenarnya bisa saja dengan menggunakan Sentosa Express (Kereta mirip LRT) yang terletak di VivoCity lantai tiga dengan jarak tempuh 15 menit, tapi berbayar. Dengan berjalan kaki sekitar 30 menit kita sudah sampai di Sentosa Island. Sebenarnya sih mirip-mirip Dufan-nya Ancol sih. Cuma bedanya ada Universal Studio Singapore disini yang bikin suasana rada gimana gitu… Belum afdol rasanya kalo belum selfie di depan bola raksasanya.

Putar-putar sebentar, akhirnya kami putuskan untuk menyudahi tur agar sempat membeli tiket Feri di HarbourFront, karena sore ini kami harus melanjutkan perjalanan ke Pulau Tanjung Balai Karimun, Riau. Nah, kali ini kami meninggalkan Sentosa Island dengan naik LRT Sentosa Express, dan GRATIS! Karena memang cuma awal berangkatnya saja yang bayar. Jika ingin pulang, siapapun boleh menaikinya dan tidak dikenakan biaya.

Menunggu kedatangan kapal Feri

Baca Juga : Traveling Seru ke Kuala Lumpur, Singapore, Karimun dan Batam – Bag 1

Tanjung Balai Karimun, kami datang…

Singkat cerita kami berhasil mendapatkan tiket Feri untuk melanjutkan perjalanan sore ini ke Pulau Tanjung Balai Karimun. Mengingat Jam 2 siang kami sudah harus kembali ke HarbourFront, agak tergesa kami kembali ke penginapan. Makan siang dan langsung berangkat.

Pejalanan dengan kapal feri ditempuh lebih kurang 1,5 jam. Laut yang tenang dan matahari bersinar cerah menemani perjalanan kami kembali ke Indonesia, tepatnya ke Provinsi Kepulauan Riau.

Selamat datang di Karimun

Kabupaten Karimun adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Ibu kota Kabupaten Karimun terletak di Tanjung Balai Karimun. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 7.984 km², dengan luas daratan 1.524 km² dan luas lautan 6.460 km². Kabupaten Karimun terdiri dari 198 pulau dengan 67 diantaranya berpenghuni. Karimun memiliki jumlah penduduk sebanyak 174.784 jiwa. Kabupaten Karimun Berbatasan dengan Kepulauan Meranti di sebelah Barat, Pelalawan dan Indragiri Hilir di Selatan, Selat Malaka di sebelah utara, dan Kota Batam di sebelah Timur.

Memandang Pantai Karimun saat Senja (cieeee)

Saat ini Karimun telah melakukan reklamasi pantai. Sehingga saat ini tampak pembangunan jalan dan beberapa tempat wisata kuliner mulai bermunculan di beberapa tempat, karena letaknya yang strategis menghadap ke laut lepas.

Agenda kami malam ini selepas beristirahat di hotel adalah menikmati santap malam di salah satu tempat makan seafood yang cukup laris dan ramai di Karimun, yaitu di Warung Seafood Raja Husin. Kami ditemani dan dipandu oleh rekan kami yang telah lama tinggal di Karimun. Warung makan ini cukup luas, hidangannya pun nikmat dengan makanan pembuka otak-otak ikan berbumbu rendang. Nikmat disantap sambil menunggu ikan bakar dan goreng pesanan kami datang. Kami pun menyudahi acara malam ini, untuk bersiap menuju Batam esok hari.

Wisata kulineran duluuuu…

Sarapan pagi yang nikmat

Pukul 4 pagi kami sudah bangun dan bersiap. Karena sebentar lagi kami akan dijemput untuk diajak sarapan pagi ke sebuah kedai legendaris di Karimun, yaitu di Kedai Kopi Botan. Yang telah eksis sejak puluhan tahun yang lalu. Matahari belum lagi terbit, namun kami telah meluncur melintasi jalan Pulau Karimun yang sunyi dan lenggang. Banyak juga warga yang berolahraga pagi. Joging di pinggir pantai sambil menunggu matahari terbit. Akhirnya kami sampai di kedai Kopi Botan. Makan pembuka pertama adalah Roti Goreng. Roti yang empuk dan nikmat ditemani segelas teh manis hangat. Belum selesai, muncullah hidangan utama. Lontong sayur ala Kedai Kopi Botan. Lontong sayur dengan racikan bumbu yang membuat orang ketagihan. Habis semua hidangan kami santap. Perut kenyang, saatnya bersiap ke dermaga. Namun sebelum itu, kami sempat sejenak berkeliling di pusat kota Pulau Karimun ini.

Baca Juga : Traveling Seru ke Kuala Lumpur, Singapore, Karimun dan Batam – Bag 2

Tragedi Mencekam di Tengah Laut

Sampai dermaga, kapal Feri yang akan membawa kami ke Batam telah menunggu. Segera masuk, dan menikmati 1,5 jam perjalanan menuju Harbour Bay Batam.

Langit cerah, punggung ombak laut tampak berkilau. Angin sepoi-sepoi. Namun…. pemandangan indah itu buyar seketika, saat kami melihat dari kejauhan bahwa kapal feri yang kami naiki ini ternyata melaju kencang menuju perpotongan jalur kapal besar pengangkut peti kemas yang juga berjalan sangat laju, persis memotong jalur Kapal Feri kami. Cemas terasa… jantung berdegup kencang, dan…. whusssssssss…….. saat detik-detik Kapal Feri kami hampir bersenggolan langsung dengan Kapal Besar pengangkut peti kemas yang berjalan kencang memotong jalur kapal kami itu. Ya ampunnnn… hanya selisih 3 detik saja, bagaikan adegan film! Sepertinya nahkoda feri tidak mengurangi kecepatan laju kapalnya sama sekali. Sehingga nyaris sekali kapal kami bersenggolan. Yah, hampir saja…. Tenyata pengemudi ugal-ugalan tidak hanya di darat, di laut pun ada… dan itu ada di laut Indonesia pula (hahahaha). (wan)

Sampai deh di batam…

———————————————–

Cerita berlanjut di, “Traveling Seru ke Batam”…edisi berikutnya, ya…. Jalan-jalan dan mengulik pulau Batam… Mau tahu? Kepoin deh bagian-4 nya… 

Oleh : Rachmat Kurniawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *