TrippersTrip Bag 2 : Traveling Seru ke Kuala Lumpur, Singapore, Karimun dan Batam

Di bagian pertama TrippersTrip yang lalu, Kang Wawan dan Tim Trippers… berkesempatan melakukan rangkaian trip seru yang dimulai dari Malaysia, Singapore lalu mampir ke Tanjung Balai Karimun dan berakhir di Batam. Kuala Lumpur, menjadi kunjungan pertama tim.  Yuk simak kelanjutan dari cerita, “Traveling Seru ke Kuala Lumpur, Singapore, Karimun dan Batam…” bagian kedua ini…

Baca Juga : Traveling Seru ke Kuala Lumpur, Singapore, Karimun dan Batam Bagian 1

Hai trippers! Lanjut nih…. Hari kedua di kedai samping hotel, dibuka dengan sarapan bihun goreng ala Kuala Lumpur ditemani teh tarik hangat, sepertinya cukuplah untuk menemani aktivitas kami yang akan dimulai pagi ini hingga sore nanti. Ada acara workshop yang akan kami kunjungi dan ternyata berjalan dengan cukup seru dan lancar. Pkl. 17.00 kami pun sudah bisa beranjak pergi. Kami sempatkan pula berbicang dengan teman-teman workshop selepas Sholat Jumat, di salah satu kedai sambil santap siang bersama.

Mereka bercerita, bahwa Kuala Lumpur (KL) sebagai ibukota yang memiliki warga dengan latar beragam, mulai dari penduduk melayu lokal, Arab, India, China, Indonesia, Eropa, dll… sangat menjunjung tinggi toleransi dan selalu mengkedepankan sikap saling menghargai tanpa harus mencampuri adat ataupun kebiasaan dari warga berkebangsaan lain. Semua berjalan masing-masing sesuai alurnya. Hingga tak heran jika tingkat keamanan di KL ini cukup baik.

Transportasi Andalan Kami

Kami sendiri pun menyaksikan bahwa selepas tengah malam, masih banyak warga KL khususnya yang wanita, dengan santainya dan tanpa rasa cemas, bepergian dengan LRT. Bayangkan deh… jam 11 malam, kamu masih ada di sekitar stasiun tanah abang. (brrrrr… seremmm bro).

Berburu oleh-oleh di Kuala Lumpur

Karena hari masih sore kami putuskan untuk mampir ke Central Market (Pasar Seni). Central Market yang terletak di jantung Kuala Lumpur dan berjarak tempuh beberapa menit dari Petaling Street yang merupakan pusat budaya dan warisan Malaysia yang terkenal. Bangunan ini dibangun tahun 1888 dan awalnya berfungsi sebagai pasar. Lalu sejak itu dianggap sebagai bangunan bersejarah.

Wisatawan selalu berbondong-bondong ke Central Market karena banyak dijual beragam kerajinan tangan, seni, kebaya, songket, dan suvenir asli Malaysia. Batik Emporium menjual berbagai label desainer ternama, dengan barang batik buatan Malaysia yang terbaik, mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga perlengkapan rumah. Tapi sayang…. Mahal cuiii!

Chinatownnya KL!

Kami pun bergeser ke area Chinatown Jalan Petaling, terletak tidak jauh dari sana. Jalan Petaling, atau lebih dikenal dengan panggilan Petaling Street, merupakan kawasan pecinan di Kuala Lumpur, Malaysia. Selama bertahun-tahun lamanya, Jalan Petaling telah menjadi tempat bisnis dan pelestarian budaya dan tradisi masyarakat Cina di Malaysia, dengan kuil Buddha dan toko yang menjual oleh-oleh khas Kuala Lumpur, obat tradisional, dan makanan Tionghoa. Mulai sore hingga lewat malam, penjaja akan menjual barang mereka di jalan.

Jarak Jalan Petaling dengan Stasiun LRT Pasar Seni hanya sekitar 400 meter. Disini harga lebih murah. Setelah sedikit berbelanja oleh-oleh untuk teman plus anak istri di rumah, kami pun berlalu. Terlalu banyak barang yang menggoda untuk dibeli…

Kuliner murah dan ramai

Tujuan berikutnya adalah Jalan Alor. Makin malam bukannya makin sepi tapi justru semakin ramai. Itulah sekilas suasana di Jalan Alor, Kuala Lumpur, Malaysia. Jalan Alor memang merupakan tempat wisata kuliner, tepatnya di kawasan elit Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Tidak terlalu sulit menemukan Jalan Alor, jalan kaki hanya membutuhkan sekitar lima menit perjalanan dari stasiun kereta monorel Bukit Bintang, tepatnya ke arah Raja Chulan.

Berbeda dengan kawasan Bukit Bintang lainnya yang dipenuhi pusat perbelanjaan elit dan mahal, Jalan Alor justru surganya penggemar berbagai makanan murah dan kaki lima. Murah??? Nah, itu cocok untuk kami!

Kuliner Jalan Alor

Setelah mencari makanan halal kami pun menikmati santap malam bersama ratusan turis lainnya. Menunya? Jelas, lagi-lagi Nasi Goreng. Karena cuma makanan itu yang pas dengan perut lokal kami (Hahahaha).

Hari ketiga. Pagi menyambut. Beda waktu. Pkl. 06.00 masih sangat gelap. Tapi kami sudah harus berangkat ke Singapura. Check out, pesan Grabcar dan kami pun kembali menjejakan kaki di Terminal Bus yang megah, TBS. Segera kami beli tiket bus ke Singapura untuk dua orang. Menunggu sebentar di Gate yang telah ditentukan. Bus pun datang tepat waktu. Kami segera meluncur…

Pagi-pagi ngantriii

Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Woodlands Singapore sekitar 4,5 jam. Tidak terlalu lama kok. Mengingat bus masuk jalan tol dan diselingin pemandangan indah perbukitan bumi jiran di kanan kiri jalan. Nah, ada yang unik, ternyata motor boleh masuk ke jalan tol loh dan memiliki jalur sendiri dan gratis pula. Unik juga ya… mengingat hal seperti ini tak kita temukan di jalur jalan tol di tanah air.

Tiket Bus kami (kiri), tuh penampakan motor di jalan tol (Kanan)

Tragedi Menyebalkan

Saat akan memasuki perbatasan negara Singapore, kami dibagikan kartu imigrasi. Harus diisi lengkap dan jelas. Sampai di Woodlands, prosedur pengecekan keimigrasian dimulai. Antrian panjang mengular, walaupun tersedia banyak gate. Semua barang bawaan akan dicek ulang. Disinilah tragedi menyebalkan kami pun dimulai…

Kartu Imigrasi

Setelah menunggu sekian lama, tibalah giliran kami. Tengok kanan, tengok kiri… teman-teman seperjalanan kami ternyata sudah “lolos” semua melewati gerbang pengecekan. Sepertinya tinggal kami saja.

Giliran kawan saya yang duluan diperiksa. Semenit, dua menit. Tampak alot di depan. Ahhh benar saja… ada masalah. Hampir 15 menit lebih kami tertahan. Alasannya sederhana… karena KTP teman saya itu masih tertulis masa expired… sedangkan di KTP Indonesia sekarang kan seharusnya sudah tertulis seumur hidup. Ya sudah, petugasnya melakukan cek sana cek sini, sambil bergumam… “Indonesia memang aneh…” (hehehehe). Jangankan bapak, saya juga masih aneh lihat prosedur KTP di negri sendiri. Akhirnya kami pun lolos….

Dengan tergesa sambil berlari… kami turun ke lokasi awal halte bus yang membawa kami. Tengok kanan, tengok kiri. Tanya sana tanya sini. Sepertinya…. kami tertinggal atau ditinggal bus sendiri.

Ahhhhhhhh…. Kecewa, tapi seru!

Sejak awal kami memang sudah merencanakan untuk menginap di daerah Bugis. Karena harga penginapan disana cukup terjangkau dan dekat dengan pusat oleh-oleh. Tidak putus asa, kami pun mengamati bus-bus khusus yang berangkat dari Woodlands. Ternyata ada bus yang langsung menuju wilayah Bugis. Dan cuma 2,5 dollar singapore per orang. Jadilah kami naik.

OTW ke Bugis Street…

Semangat pun bangkit walau perut keroncongan. Oiya, ingat aplikasi google maps atau Waze di ponsel kamu akan sangat membantu loh, karena akan sangat memudahkan pencarian rute perjalanan yang kita inginkan.

Bugis di Singapore?

Perjalanan sekitar 45 menit. Kami pun sampai di Bugis. Kok ada Bugis di Singapore? Begini ceritanya…

Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Makassar.

Bugis Street

Ketika Johor dan laskar-laskar bayaran dari Bugis berhasil menaklukkan Jambi, Raja Johor justru ingkar janji. Orang orang Bugis pun marah, sehingga mereka secara membabi buta melawan Kerajaan Johor. Maka runtuhlah kerajaan Johor (yang waktu itu juga menguasai Riau dan Singapura) dan terpisah dari Kerajaan Lingga (Riau). Kedua kerajaan itu pun takluk pada orang-orang Bugis, sehingga jadilah raja-raja mereka turun tahta, dan digantikan oleh raja dan sultan-sultan Bugis, turun temurun sampai sekarang.

Menurut sejarah, 9 dari 13 kerajaan dan kesultanan di Malaysia adalah keturunan raja-raja Bugis, termasuk kerajaan terbesarnya, Selangor, hingga Yang Dipertuan Agung (Raja Malaysia), yang dijabat secara bergantian oleh raja-raja dari negara-negara bagian di Malaysia. Kejayaan Bugis yang berbaur sebagai orang Melayu itu pun, berpengaruh sampai ke… Singapura. Hingga kini Kampung Bugis di kawasan Kallang masih ada, bahkan sudah berkembang pesat di Singapura. Dan diabadikan sebagai nama jalan ‘Kampung Bugis Street’.

Godaan belanja lageee

Di kawasan Bugis berdiri pusat perbelanjaan terkenal seperti Bugis Village, Bugis Junction, Bugis Square, dan Arab Street. Di kawasan ini juga terdapat masjid besar di Singapura, ‘Sultan Mosque’, yang merupakan masjid peninggalan pengusaha-pengusaha Bugis di jaman itu. Konon untuk membangun masjid itu, orang-orang Bugis mengumpulkan uang dan emas, bahkan mereka menjual tanahnya di kawasan Geylang, yang dulunya sebagian besar adalah milik orang-orang Bugis.

Menginjakkan kaki di Bugis dengan perut lapar, membuat langkah kaki semakin berat. Kami memutuskan untuk ke Bugis Street terlebih dahulu, namun ternyata disana makanan “halal” sangatlah sulit didapat. Akhirnya kami pun “menyerah” dan mampir ke Mc Donald yang ada disitu. Kembali kami kecewa, karena umumnya McD di Singapore ini tidak ada menu nasi. Alhasil, tak ada nasi, kentang dan salad pun akhirnya kami ‘habisi’.

Sultan Mosque

Setelah perut terisi, mencari penginapan adalah tujuan berikutnya. Tak jauh dari Bugis Street terdapat Arab Street. Kami segera menuju ke sana. Sekitar 15 menit kami sampai dengan berjalan kaki. Di area itu berdiri megah masjid Sultan. Di sekelilingnya bertebaran restoran halal yang umumnya dikelola para pendatang arab. Selain itu deretan hostel dan hotel pun bertebaran.

Tapi…. ingat ini, tarif Hotel/Penginapan di sekitar Arab Street, sangatlah mahal. Akhirnya kami hanya bisa mendapatkan hostel yang cukup terjangkau harganya sekitar Rp. 800.000 semalam. Kamarnya sangatlah kecil mungkin sekitar 3×2 meter dengan 2 bed, tanpa TV, tanpa Handuk, tanpa jendela, kamar mandi pun di luar. Tapi untunglah masih ada AC. Hmm… kira-kira seperti ruangan penyekapan tahanan lah (hahahaha). Umumnya di kamar lain ranjangnya bertingkat. Setelah mandi, kami pun bersiap berpetualang di negri singa. (wan)

———————————————–

Cerita berlanjut di, “Traveling Seru ke Kuala Lumpur, Singapore, Karimun dan Batam”…edisi berikutnya, ya…. Jalan-jalan ke Merlion Park di Singapore… Mau tahu? Kepoin deh bagian-3 nya….

Oleh : Rachmat Kurniawan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *