Trinity “The Naked Traveler”

Generasi millennial pecinta jalan-jalan bisa jadi akrab dengan penulis Trinity dan karyanya The Naked Traveler. Berawal dari medium blog pada 2005, Trinity bercerita mengenai pengalaman jalan-jalannya yang kocak dan informatif. Pada 2007 medium tersebut bertambah menjadi buku dan sampai sekarang melahirkan delapan buku The Naked Traveler dan tujuh buku berjudul lain. Pada 2017 cerita dari blog dan buku tersebut diangkat ke layar lebar dengan film berjudul “The Nekad Traveler”.

Mencari informasi seputar sosok Trinity The Naked Traveler bukan sesuatu hal yang sulit dilakukan. Sekali mengetik namanya di Google, maka akan muncul begitu banyak portofolio tentang dirinya. Sosok yang satu ini memang sangat populer di kalangan traveler Indonesia.

Mengawali karirnya di dunia traveling sebagai travel blogger, tak banyak yang tahu bahwa Trinity justru memulai perjalanannya saat tak ada orang lain yang mengenal dunia travel blogging. Lalu, bagaimana dirinya bisa terus bertahan dan membesarkan namanya di dunia traveling hingga kini?

Kami mendapatkan kesempatan untuk mengobrol dengan Trinity, mengenai kisahnya saat awal menjadi travel blogger di Indonesia.

 

Awal mula mengenal dunia travel blogging

” alt=”” aria-hidden=”true” />trinity the naked traveler

Awal mula perjalanan Trinity The Naked Traveler. Foto dari @trinitytraveler

Sosok Trinity The Naked Traveler sendiri sudah dikenalkan pada dunia traveling sejak dirinya kecil. Keluarganya memang membiasakan untuk pergi liburan, jadi secara tak langsung kebiasaan ini terbawa sampai Trinity tumbuh dewasa. Hobi travelingnya makin tak bisa dibendung lagi setelah dirinya bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri.

Saat ditanya soal hobi menulis, Trinity juga bercerita bahwa dirinya mulai senang menulis sejak dirinya masih kecil.

“Dulu mulainya ya dari nulis-nulis di buku diary gitu. Kan jaman dulu masih suka nulis di buku yang ada gemboknya gitu kan,” ceritanya dengan tawa renyah. 

Hobi menulis ini pun terus dilakukan hingga dia dewasa. Mulai dari menulis di buku diary, Trinity sering menuliskan kisah perjalanannya, atau sering juga menuliskan banyak kisah lain tentang kehidupannya. Beberapa waktu dia juga sempat membagikan tulisannya tersebut ke lingkup teman-teman dekatnya.

“Sampai akhirnya suatu saat ada temen yang bilang, kenapa tulisannya nggak dibikin blog aja? Tapi saat itu aku juga belum tahu, blog itu apa,” tambah Trinity.

Awal tahun 2000-an saat Trinity belum mengenal dunia blogging, seorang teman mengenalkannya pada blog. Bahkan dia juga menceritakan kalau blog yang dipakainya hingga kini merupakan blog yang dibuatkan oleh temannya. Hingga pada tahun 2005, Trinity bisa dibilang telah menjadi travel blogger pertama di Indonesia.

 

Berjuang ketika dunia travel blogging belum dikenal sama sekali di Indonesia

” alt=”” aria-hidden=”true” />trinity

Sosok Trinity The Naked Traveler yang inspiratif. Foto dari @trinitytraveler

 

Tahun 2007, Trinity memutuskan untuk resign dari pekerjaannya. Selain karena permasalahan susahnya cuti, dirinya juga resign karena harus menempuh pendidikan S2 di Filipina.

“Tahun 2007 itu masih jadi mbak-mbak kantor, yang kalau mau cuti susahnya minta ampun. Padahal hasrat buat liburan sudah benar-benar memuncak. Akhirnya ya tahun 2007  memutuskan resign, karena sekalian mau lanjut study di Filipina,” cerita Trinity bersemangat.

Trinity belajar di Filipina selama setahun dengan konsentrasi tentang bisnis. Selama setahun itulah Trinity banyak belajar tentang dunia bisnis dan diajarkan untuk menjadi seorang enterpreneur. Dia diajarkan untuk mulai mengejar mimpi-mimpinya secara terarah melalui hobi yang dimilikinya.

Tahun 2008, Trinity selesai belajar dan mengambil keputusan untuk tidak kembali lagi ke dunia kerja.

“Selesai belajar tahun 2008 dan setelah itu malah nggak pengen balik ke dunia kerja lagi. Justru ini jadi trigger aku untuk serius menjadi travel blogger,” ungkap penulis buku The Naked Traveler ini.

Pada tahun yang sama juga Trinity mulai mewujudkan mimpinya. Dia membuat business plan untuk proyek travel blogging-nya.

Setelah plan dianggap matang, dia meyakini bahwa dirinya bisa hidup dengan menjadi travel blogger. Jadi patut digarisbawahi bahwa pilihan menjadi travel blogger bukanlah keputusan yang tanpa perhitungan. Semua dijalani Trinity dengan penuh perhitungan dan perencanaan, termasuk peluang apa yang bisa menghasilkan uang baginya.

Maka saat blognya mulai banyak dikunjungi dan dibaca, mulailah Trinity mendapat tawaran dari media untuk menuliskan ceritanya dalam bentuk buku cetak, hingga akhirnya terbitlah buku yang berjudul The Naked Traveler.

Sponsor pun mulai berdatangan, bahkan bukunya telah diangkat dalam sebuah film dengan judul yang hampir sama “The Nekad Traveler”.

Selain itu, Trinity mengaku bahwa saat ini dirinya juga masih menulis. Dan salah satu hal yang terus menghidupinya sebagai travel blogger adalah dari buku.

“Kalau aku kan daily job-nya sekarang ada pemasukan dari royalti buku, jadi pembicara dan juga social influencer,” kata Trinity. 

 

Pesan untuk para travel blogger

” alt=”” aria-hidden=”true” />trinity the naked traveler

Pesan Trinity The Naked Traveler untuk para pemula. Foto dari @trinitytraveler

 

“Teruslah jalan-jalan, dan teruslah menuliskannya. Yang terpenting adalah konsistensi. “

Setidaknya begitulah pesan yang disampaikan Trinity saat kami mencoba bertanya, apa yang harus dilakukan para pemula di dunia travel blogging.

“Aku aja yang udah hampir 13 tahun di dunia travel blog masih jalan-jalan dan masih nulis sampai sekarang,” tambah Trinity.

Trinity juga memiliki pesan untuk pembaca Phinemo yang ingin menekuni dunia travel blogging. Menurut Trinity, selain konsistensi, yang tak kalah penting adalah perencanaan. Jangan nekad untuk keluar dari dunia kerja demi menjadi travel blogger jika tidak punya perencanaan yang matang. Paling tidak sudah merencanakan dari manakah pemasukan mereka sehari-hari, seperti dirinya yang mendapat pemasukan dari royalti buku, jadi pembicara dan lainnya.

Sumber : phinemo.com & travel.kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *