Sekuntum Melati – mengangkat Derajat Srikandi Negeri

Trippers – 8 Maret kemarin kita bersama memperingati Hari Perempuan International (International Women’s Day) yang berawal dari unjuk rasa 15.000 wanita di New Yok, AS lebih dari se-abad lalu yang menuntut pengurangan jam kerja, gaji yang lebih baik serta hak untuk memilih. Hingga saat ini, kesetaraan gender yang merupakan salah satu dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Deveopment Goals/SDGs) tahun 2030 masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pemimpin dunia.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah melati-1.jpg
Launching Sekolah Perempuan “Sekuntum Melati” 24 Februari 2020

Hal ini mengingat peran wanita terhadap berbagai sendi kehidupan seperti ekonomi, politik maupun sosial masih sangat minim bila dibandingkan dengan jumlah proporsi wanita dan pria di dunia, dimana dari sekitar 7,79 Miliar penduduk dunia, 49,58 persen adalah wanita. Di Indonesia sendiri jumlah penduduk wanita sekitar 49,42 persen sedangkan pria 50,58 persen, dan diproyeksikan oleh BPS pada tahun 2032 jumlah wanita di Indonesia akan lebih banyak dari jumlah pria.

Larry Summers, mantan chief economist World Bank, mengatakan bahwa “investment in girls’ education may well be the highest- return investment available in the developing world”. Terkait hal tersebut sebuah cerita menarik terjadi di Bihar India, salah satu negara bagian termiskin di bagian utara negeri Bollywood tersebut. Pada waktu itu, pemerintah setempat mengalami sebuah tantangan dimana banyak dari siswa SMP Perempuan yang tidak menyelesaikan pendidikannya (drop out) dengan berbagai alasan, antara lain ingin membantu ekonomi keluarga dengan bekerja, hingga alasan jarak antara sekolah dan tempat tinggal mereka yang cukup jauh, rata-rata sekitar 2 hingga 15 Km.

Secara normative, mungkin ada beberapa solusi yang bisa dan biasa dilakukan pemerintah, antara lain menyiapkan bus sekolah untuk menjemput siswi tersebut atau membangun sekolah baru yang dekat dengan perkampungan mereka. Namun yang menarik dari cerita ini adalah kebijakan pemerintah yang akhirnya memberikan setiap siswa perempuan satu buah sepeda untuk ke sekolah (teenage schoolgirl a free bike policy). Hasilnya, jumlah siswa perempuan yang menyelesaikan pendidikan meningkat hingga 30%. Kebijakan “out of the box” ini menarik perhatian dua peneliti dari International Growth Centre hingga mereka berharap studi kasus ini dapat digeneralisasi dan direplikasi di tempat lain yang mengalami tantangan serupa.

Proses belajar mengajar di Balai Desa untuk siswa Sekolah Perempuan “Sekuntum Melati”

Masih tentang perempuan, salah satu kisah yang tak kalah menarik adalah dari Penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006, Muhamad Yunus dengan “Grameen Bank” nya yang telah melakukan eksperimen sejak tahun 1979. Awalnya Professor Yunus yang lulusan Amerika ingin mengentaskan kemiskinan di desa nya, Desa Jobra, Bangladesh.  Dari seorang perempuan bernama Sufiya Begum, Professor Yunus belajar bahwa akar permasalahan dari kemiskinan di desa tersebut adalah karena jeratan rentenir, sehingga usaha apapun yang dilakukan oleh penduduk desa tak bisa mengangkat derajat mereka. Akhirnya Prof. Yunus mendesain program untuk memberi manfaat bagi orang miskin dengan membuat skema pinjaman kredit mikro untuk orang miskin dan bahkan buta huruf, yang pada awalnya banyak ditolak oleh bankir senior karena sangat tidak bankable. Kunci keberhasilan Grameen Bank pun tak lain adalah wanita. Berdasarkan pengalaman mereka, nasabah wanita sangat taat mematuhi cicilan kredit dengan rasio kredit macet kurang dari 3 persen. Hal ini karena wanita sangat mempertimbangkan keluarga dan anak-anaknya sebelum bertindak.

Akhirnya, hingga kini “Grameen Bank” yang berarti “Bank Desa” tersebut telah memiliki 2500 cabang dengan 25 Juta nasabah, dan hampir semua (97%) nasabahnya adalah wanita. Benang merah dari prakata ini adalah terkadang pendekatan untuk pemberdayaan perempuan seringkali tidak normatif dan out of the box, karena seperti yang ditulis oleh Dr. John Gray di Bukunya “Men are from Mars, Women are from Venus” bahwa pada dasarnya pria dan wanita tidak hanya berbeda secara jasad (body) namun juga spirit dan soul nya juga berbeda. Jika pria banyak berbuat pada tataran consciousness (daily thinking) namun wanita banyak berbuat pada tataran sub-consciousness (intuisi). Jika banyak pria memulai dari feasibility, kebanyakan wanita memulai dari desireability. Karena itu, pendekatan pemberdayaan perempuan juga harus mengena dan “tepat di hatinya” guna menuju kesetaraan gender seperti yang dicita-citakan SDGs 2030 diatas.

“Sekuntum Melati” Untuk Negeri

“Sekuntum Melati” tentu belum se-fenomenal dua contoh inspiratif diatas. Namun, gerakan ini sama-sama berangkat dari desa dan sama-sama berfokus pada pemberdayaan perempuan sehingga memiliki spirit yang simetris. Diluncurkan pada tanggal 24 Februari tahun 2020  yang lalu, Sekolah Perempuan “Sekuntum Melati” mengambil lokus percontohan di dua desa, yaitu desa Rukam Kabupaten Bangka dan Desa Jelutung II di Kabupaten Bangka Selatan.

Hj. MELATI ERZALDI, SH (Founder Sekolah Perempuan “Sekuntum Melati” Bangka Belitung)

Pertimbangan memilih kedua desa ini sebagai pilot project, tak lain adalah karena indikator indeks pembagunan manusia di desa tersebut yang tercermin dari indeks pendidikan, indeks ekonomi dan indeks kesehatan secara umum masih rendah, utamanya untuk kaum wanita. Seperti di desa Jelutung II, hanya 8% (129) dari 1452 perempuan usia produktif (15-64 tahun) yang bekerja. Sekolah perempuan hadir sebagai wadah persemaian perempuan-perempuan di desa tersebut agar menjadi lebih mandiri, berkarakter, memiliki jiwa entrepreneurship sehingga dapat membantu perekonomian keluarga.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah melati-6.jpg
Berjumpa kembali dengan Siswi “Sekuntum Melati” Desa Jelutung II (Selasa, 03/03/2021)

“Sekuntum Melati” sendiri merupakan singkatan dari Sekolah Untuk Perempuan Menjadi Mandiri dan Terlatih, yang bertujuan untuk menciptakan perempuan yang tangguh dan mandiri melalui pembelajaran dan pendidikan jalur informal dengan menggandeng Dinas-Dinas terkait, UN Women serta gerakan OK OCE. Kegiatan pembelajaran dibagi menjadi 3 materi utama dengan 23 modul pembelajaran. Kegiatan pertama tentang “pelajaran dasar umum” yang terdiri dari 8 modul yaitu ketahanan keluarga, citra diri perempuan, pengelolaan keuangan keluarga, pola asuh dan KDRT, perempuan cerdas keluarga sehat dan bahagia, tahapan pemberdayaan masyarakat, deteksi dini tumbuh kembang anak, serta pola asuh, keterampilan hidup dan ketahanan diri anak. Kegiatan kedua tentang “Penumbuhan Wirausaha Baru (WUB)” yang terdiri dari 11 Modul yaitu materi tentang siapkah saya menjadi pengusaha, motivasi berusaha, legalitas usaha, mulai dan wujudkan usaha anda, digital marketing, pengelolaan ekonomi rumah tangga, serta pelatihan-pelatihan keterampilan sesuai potensi desa. Kegiatan ketiga tentang “pengembangan usaha” yang terdiri dari 4 modul yaitu akses pembiayaan, penentuan dan pencarian akses pasar, strategi menjadi wirausaha sukses, serta fasilitasi desain dan kemasan produk unggulan. Kegiatan pembelajaran ini dilakukan sebanyak 12 kali tatap muka selama 3 bulan dengan jumlah peserta rata-rata 100 perempuan per desa dengan berbagai latar belakang demografi.

Ibu-Ibu Siswa “Sekuntum Melati” Desa Jelutung II

Sebagai contoh, di Desa Jelutung II dengan Kepala Sekolah Dr. Muslim El Hakim Kurniawan yang berpengalaman mempelajari gerakan OVOP (One Village One Product) langsung dari Jepang, membuat visi saya tentang sekolah perempuan “Sekuntum Melati” ini menjadi sinergis. Melihat potensi di Desa tersebut adalah ikan gabus, yang pada bulan-bulan tertentu menghasilkan hingga ratusan kilo ikan gabus per hari, maka pelatihan yang digiatkan adalah pengolahan albumin ikan gabus serta abon dari ikan gabus yang memiliki peluang pasar yang potensial. Hal ini dapat memberi nilai tambah dari ikan gabus tersebut, yang sebelumnya dijual “mentah” oleh penduduk desa kepada “penadah” dengan harga Rp. 30.000,- per kg, setelah menjadi abon ikan dihargai Rp. 300.000,- per kg. Mengingat minat dari ibu-ibu siswa “Sekuntum Melati” dari setiap Dusun (Desa Jelutung II terdiri dari 3 dusun-red) yang beragam, serta potensi lain yang tersedia di desa tersebut, pelatihan lain yang juga dilakukan adalah pelatihan anyaman dari lidi kelapa dan sawit karena banyak juga di desa tersebut tumbuh pohon kelapa dan perkebunan sawit, keterampilan menyulam serta tata boga.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah melati-4-768x1024.jpg
Ibu-Ibu yang sedang belajar anyaman dari lidi kelapa dan sawit

Kemudian, setelah itu kami bentuk kelompok usaha (KUB) bersama sesuai minat dan pelatihan yang telah diikuti oleh Ibu-Ibu siswa “Sekuntum Melati” tersebut menjadi 3 KUB, yaitu KUB “Sekuntum Mawar” untuk ibu-ibu pegiat olahan ikan gabus, KUB “Anyaman Cikar” untuk ibu-ibu pegiat anyaman dan sulam, serta KUB “Mak-Mak Pacak” untuk ibu-ibu pegiat boga. Pembentukan KUB ini diharapkan menjadi cikal-bakal mereka untuk membentuk badan hukum lebih lanjut seperti koperasi sehingga lebih mudah untuk mendapatkan fasilitasi, bantuan dan pendampingan untuk pengelolaan usaha.

Ibu-ibu di Dusun Serdang, Desa Jelutung II, yang sedang fokus belajar olahan albumin dan abon dari ikan gabus

“Menyentuh Hatinya”

Mengajak ibu-ibu yang semuanya sudah berkeluarga, usia tak lagi muda serta rata-rata berpendidikan tak terlalu tinggi meluangkan waktu untuk kembali belajar merupakan tantangan tersendiri. Apalagi sekolah perempuan “Sekuntum Melati” ini merupakan pilot project-non budgeter sehingga tak tersedia konsumsi pada saat belajar apalagi uang saku untuk peserta. Jadi, bisa dipastikan bahwa peserta yang datang untuk mengikuti pelajaran benar-benar ingin menyerap ilmu yang disampaikan oleh para narasumber dengan harapan dapat merubah “kualitas” hidup mereka. Hal ini, tak terlepas dari bagaimana kami mendesain kurikulum pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan partisipatif.

Ibu-Ibu Siswa “Sekuntum Melati” Desa Jelutung II

Sejak awal Ibu-ibu siswa sekolah perempuan sudah dilibatkan bagaimana desain kurikulum serta waktu belajar yang mereka inginkan. Hal ini membuat mereka selalu antusias untuk mengikuti pelajaran, bahkan untuk pelatihan anyaman dari lidi, sang instruktur “dipaksa” untuk menginap di rumah mereka dan mereka melakukan pelatihan hingga larut malam. Selain itu, pada awal-awal tatap muka kami juga melakukan survei “Persona Canvas” yang sudah di adjust versi Bangka sehingga secara garis besar lebih mudah untuk memahami keinginan para Ibu-Ibu tersebut.

Persona Canvas “Versi Bangka” untuk mengetahui “hasrat” terpendam Ibu-Ibu Siswa “Sekuntum Melati”

Dari canvas ini kami dapat memetakan apa yang mereka kerjakan, apa kebutuhan mereka, apa ketakutan mereka, apa peluang yang menurut mereka potensial, apa yang mendukung serta menghambat mereka mengejar peluang tersebut serta persoalan apa yang membuat “kepala mereka pusing”. Melalui canvas ini kegiatan yang dilakukan dapat mengena ke hati ibu-ibu siswa sekolah perempuan sekaligus dapat menjadi catatan bagi Pemerintah dan stakeholder lain dalam rangka membuat kebijakan dan program yang berkesinambungan dan tepat sasaran.

Niat baik dan rencana yang sudah disusun sedemikian rupa waktu itu tak dapat mengelakkan pandemi. Iya, Covid-19 membuat semua orang tersentak, membalikkan keadaan 180 derajat hampir pada semua sisi kehidupan dan penghidupan serta meng-akselerasi disrupsi yang sebelumnya disebabkan oleh digitalisasi. Tak terkecuali kami dan siswi “Sekuntum Melati”. Finishing kegiatan pun harus terhenti karena pandemi. Namun, tentu semangat untuk pemberdayaan tak pernah surut, hanya tertunda semata, seraya berharap Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan mengangkat musibah ini dari muka dunia. Akhirnya, setelah setahun bertarung melawan pandemi dengan segala protokol kesehatan yang harus dipenuhi, kemarin, tepatnya pada hari Selasa, 03 Maret 2021 kami kembali menyapa “asa yang tertunda” di Desa Jelutung II. Ibu-ibu dengan senyum yang tampak dari tatapan matanya menyambut dengan semangat yang sama seperti setahun yang lalu.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah 8.jpg
Abon Ikan Gabus dan piring anyaman lidi, produk unggulan “Sekuntum Melati” Desa Jelutung II

Pada kesempatan itu saya memotivasi Ibu-ibu untuk tetap bersemangat menjadi pahlawan ekonomi keluarga. Me-refresh ingatan mereka bahwa “Sekuntum Melati” dibentuk agar mereka semua dapat menjadi mandiri dan terlatih. Pada kesempatan tersebut juga bersama Bapak Gubernur Kep. Bangka Belitung kami memberikan bantuan mesin peniris minyak kapasitas 5 kg untuk pembuatan abon ikan gabus beserta 100 kemasannya sebagai “perangsang” kegiatan perekonomian mereka agar dapat bergairah kembali, serta mengingat bulan depan (April-red) merupakan masa awal panen ikan gabus di sungai mereka di Dusun Serdang, Desa Jelutung II, sehingga peluang ini diharapkan dapat dimanfaatkan dengan baik.

Akhirnya, upaya ini diharapkan dapat mengangkat derajat para srikandi negeri, utamanya untuk terus bangkit dan bertahan di masa pandemi. “Sekuntum Melati” hadir dengan membangun 4 pilar bagi perempuan yaitu karakter, kemandirian, entrepreneurship serta ekonomi keluarga. Semoga gerakan ini kedepan dapat menjadi legasi dari negeri laskar pelangi serta menjadi tabungan jariyah kami selama memimpin negeri. Aamiin.

Memberikan bantuan mesin peniris minyak dan kemasan untuk olahan abon ikan gabus


Oleh : Hj. MELATI ERZALDI, SH (Founder Sekolah Perempuan “Sekuntum Melati” Bangka Belitung)


Sumber : Dr. Muslim El Hakim Kurniawan, ASN di Pemprov Babel (Kepala Sekolah Perempuan “Sekuntum Melati” Desa Jelutung 2)

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah WhatsApp-Image-2021-03-13-at-07.49.09-1-150x150.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *