Samsuridjal Djauzi Bekerja untuk Kemanusiaan

Menjadi dokter adalah bekerja untuk kemanusiaan. Dokter yang kehilangan rasa kemanusiaan tidak bisa menjadi dokter yang baik. Prinsip itu dipegang erat oleh Samsuridjal Djauzi, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Hal itu ditanamkan kepada para mahasiswa baru FKUI lewat kuliah umum bertema “Menjadi Dokter yang Profesional, Berakhlak Mulia dan Mencintai Tanah Air.”

Menjadi dokter mensyaratkan sikap peduli, empati pada sesama dan tidak diskriminatif. Selain profesional, setiap dokter harus bersedia menolong pasien tanpa membeda-bedakan manusia dan penyakitnya.

Hal itu dibuktikan di awal merebaknya HIV-AIDS. Di tengah masih sedikitnya pengetahuan tentang sindrom defisiensi kekebalan tubuh, keraguan tenaga kesehatan, serta ketakutan masyarakat terkait penularan, Samsuridjal menjadi satu dari sedikit dokter yang bersedia merawat pasien HIV-AIDS. Atas kiprahnya, dia meraih penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Tahun 2021 dari harian Kompas.

Pertengahan tahun 1995, ia sempat berbeda pendapat dan tidak diizinkan merawat pasien di sebuah rumah sakit swasta tempatnya berpraktik akibat prinsipnya. Sikap kukuhnya dibela organisasi profesi, Ikatan Dokter Indonesia.

Lewat Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS yang diresmikan Maret 1986, Samsuridjal bersama Zubairi Djoerban, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI yang belajar tentang HIV-AIDS saat pelatihan di Perancis pada 1982-1983, serta sejumlah dokter melakukan kajian dan penelitian tentang AIDS.

Pokdisus mulai memberikan layanan bagi orang dengan HIV-AIDS (ODHA) lewat Program Akses Diagnosis dan Terapi, November 1999. Lewat negosiasi dengan perusahaan farmasi, diperoleh potongan harga, sehingga bisa memberi layanan tes HIV dan terapi obat antiretroviral (ARV) dengan harga terjangkau.

Karena tetap dirasa mahal bagi sebagian besar pasien, Pokdisus mengadvokasi berbagai pihak termasuk pemerintah. Tahun 2004, sebagai upaya penanggulangan HIV-AIDS, Pemerintah Indonesia memutuskan melakukan pelaksanaan paten agar bisa memproduksi sejumlah obat ARV di dalam negeri dengan membayar royalti ke pemilik paten. Tahun 2005, obat ARV sudah bisa diakses secara gratis.

“Saat ini 90 persen biaya obat ARV berasal dari APBN,” kata Samsuridjal, saat diwawancara pada Minggu (20/6/2021). Terapi itu diakses sekitar 130.000 ODHA melalui berbagai pusat layanan kesehatan, 10.000 di antaranya mengakses lewat Pokdisus.

Tim Pokdisus yang kini diperkuat banyak dokter dari berbagai spesialisasi tak hanya memberikan layanan ARV, pengobatan infeksi oportunistik dan infeksi menular seksual. Samsuridjal dan Zubairi bersama tim Pokdisus menghasilkan banyak penelitian yang dipublikasi di berbagai jurnal ilmiah nasional dan internasional. Kedua guru besar itu juga melakukan penelitian bersama antar negara yang dibiayai National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat serta dipresentasikan di konferensi internasional.

Memberdayakan

Untuk mengedukasi masyarakat terkait HIV-AIDS serta memberi dukungan bagi ODHA, tahun 1989, bersama Zubairi dan Sri Wahyuningsih, Samsuridjal mendirikan Yayasan Pelita Ilmu (YPI). Kegiatannya antara lain penyuluhan pada remaja, konseling dan tes HIV, pencegahan HIV-AIDS pada pengguna narkoba suntik, pencegahan penularan pada ibu ke bayi, serta dukungan bagi ODHA.

“Saat ini, YPI memberikan pendampingan bagi ODHA yang usahanya terpuruk akibat pandemi untuk mendapat bantuan hibah modal dari pemerintah bagi usaha kecil dan menengah,” ujar Samsuridjal.

Hal yang menggembirakan, demikian Samsuridjal, kini banyak tenaga kesehatan termasuk dokter umum bersedia terlibat dalam layanan kesehatan untuk HIV-AIDS. Selain itu, di kota-kota besar stigma bagi ODHA sudah berkurang. Komunitas juga berkembang untuk pemberdayaan ODHA.

YPI memiliki kegiatan lain, yakni Pelita Desa yang sejak 2002 memberdayakan remaja desa agar mampu memajukan daerahnya. Menempati lahan di Desa Ciseeng, Parung, Kabupaten Bogor, Pelita Desa menjadi tempat pelatihan ketrampilan dan wirausaha bagi remaja desa; budi daya ikan, ternak, dan perkebunan; serta sarana perkemahan dan outbound bagi anak sekolah dan masyarakat umum. Dana yang didapat untuk membiayai kegiatan YPI serta meningkatkan wawasan remaja desa dengan mengajak mereka studi banding ke negara tetangga.

Di masa pandemi, kegiatan outbound terhenti. Sebagai ganti, para pemuda desa mengekspor ikan dan tanaman hias ke berbagai negara. Mereka menawarkan lewat internet, melayani pembelian skala kecil langsung ke konsumen dibantu alumni IPB terkait persyaratan karantina dan kemasan pengiriman.

Kini sebagai penasihat YPI dan Pelita Desa, Samsuridjal memberikan inspirasi dan semangat bagi para remaja desa lewat segmen acara “Belajar Bareng Prof Samsu” yang diunggah di Youtube.

Di usianya yang ke 76 tahun, Samsuridjal masih aktif mengajar S2 dan S3 serta menguji S3 dari FKUI maupun FK universitas lain. Juga praktik di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan RS Dharmais serta menulis untuk kolom Konsultasi Kesehatan di Harian Kompas yang diasuh sejak November 1993.

Kegiatan lain, menjadi Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).  Satgas yang diresmikan tahun 2003 itu kini telah melatih sekitar 3.000 dokter umum agar dapat menyediakan layanan vaksinasi di tempat praktik.

“Selain pada anak, vaksinasi penting bagi orang dewasa. Sebagai gambaran, angka kematian pada orang lanjut usia akibat pneumonia di RSCM mencapai 20 persen. Artinya, dari 10 lansia yang dirawat akibat pneumonia, dua di antaranya tidak bisa diselamatkan nyawanya. Padahal bisa dicegah dengan vaksin pneumokokus,” papar Samsuridjal.

Menjadi dokter bukan cita-cita awal. “Saya sudah lolos ujian masuk Teknik Kimia ITB. Tapi agar tidak perlu kos dan meringankan beban orang tua, saya ikut ujian masuk FKUI. Di tingkat II, semua mahasiswa FK ditawari beasiswa dengan syarat setelah lulus bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia,” tuturnya.

Setelah lulus dokter tahun 1969, ia mengikuti pendidikan Spesialis Penyakit Dalam. Selesai pendidikan pada 1976, Samsuridjal bertugas di Kalimantan Timur. Meski ditempatkan di Rumah Sakit Wahab Syahrani Samarinda, Samsuridjal berkeliling ke rumah sakit kabupaten karena merupakan satu-satunya dokter penyakit dalam.

Pada mahasiswa baru, Samsuridjal menekankan untuk tidak melewatkan kesempatan bekerja di daerah. Itu merupakan sarana mematangkan diri, belajar, bergaul, dan memahami budaya suku lain serta menjadi pemersatu bangsa.

Semangat bekerja untuk kemanusiaan mendarah daging di keluarga. Putra putrinya, Irfan Wahyudi dan Hilma Paramita, kini sudah menjadi dokter spesialis. Demikian juga para menantunya. Tiga dari lima cucu memilih belajar di fakultas kedokteran. Cucu pertama telah lulus dari FKUI dan mendaftar untuk internsip di daerah.

Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI, FACP

Lahir: Bukit Tinggi, 3 Mei 1945

Istri     : Siti Chamisa

Anak   : 1. Dr dr Irfan Wahyudi SpU

              2. dr Hilma Paramita SpKJ

Pendidikan:

  • Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1969
  • Spesialis Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 1976
  • Konsultan Alergi-Imunologi, 1986
  • Doktor di bidang Alergi-Imunologi FKUI, 1999

Jabatan:

  • Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam  FKUI
  • Direktur Utama RS Kanker Dharmais, 2000-2005

Kegiatan Profesi:

  • Ketua Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) 2000-2003
  • Chairman Indonesian Association of Physician in AIDS Care 2018-sekarang
  • Anggota Dewan Pertimbangan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
  • Honorary Fellow of American College of Physician, 2001
  • Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa PAPDI, 2003-sekarang

Kegiatan Masyarakat: 

  •  Penulis Ruang Konsultasi Kesehatan Kompas sejak 1993
  • Pendiri Yayasan Pelita Ilmu, 1989
  • Pendiri Pelita Desa, 2002

Penghargaan: 

  • Piagam penghargaan Adi Satya Utama IDI, 1996
  • Penghargaan Sudjono Djuned Pusponegoro IDI sebagai penulis makalah terbaik, 2003, bersama dr. Asnath M, SpPD.

Sumber : www.kompas.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *