Novrial: Kami Anggap Pandemi ini Pit Stop

Jam Gadang, Nagari Pancuang Taba, Rendang, hingga Tari Piring. Mendengar kata-kata tersebut apa yang terlintas di benak kalian? Apa lagi kalau bukan Sumatera Barat!

Daerah yang terkenal dengan pariwisatanya yang berbalut nilai-nilai tradisi dan budaya ini memiliki cara lain dalam memandang pandemi Covid-19. Ini diakui oleh Novrial Rajo Mangkuto selaku Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat. Sosok yang gemar memelihara ayam kokok botingkek khas Solok ini memang memandang pandemi Covid-19 lain dari yang lain.

Foto: Tribunnews.com

Jika pemerintah daerah biasanya memandang pandemi sebagai bencana biologis yang menghambat lajur pengembangan pariwisata daerah. Namun di mata Novrial, pandemi ini bagaikan pit stop dalam balapan Formula 1.

“(Pandemi) Ibarat pit stop, kalau dalam balapan itu jadi ada tempat berhenti untuk kemudian kita lakukan perbaikan supaya kencang,” ujar Novrial Rajo Mangkuto saat diwawancarai oleh wartawan pariwisataindonesia.id pada Kamis, 26 November 2020 di sela-sela kesibukannya menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Denpasar, Bali.

“Saya selalu bilang itu kayak di Formula 1, sekarang kita lakukan berbagai pembenahan, terbukti kami baru rampung menyelesaikan perda wisata halal,” lanjutnya.

Foto: Republika.co.id

Buah dari pembenahan yang dilakukan oleh Novrial membawa Sumatera Barat menjadi daerah yang relatif baik perkembangan pariwisatanya, sebab sejak bulan Juni 2020, Sumatera Barat sudah memulai aktivitas pariwisatanya seperti sedia kala. Berbagai atraksi wisata, festival serta event-event lain sudah diselenggarakan menyambut wisatawan nusantara yang sudah kembali normal.

Lagi-lagi pandangan Novrial selalu berlainan dengan pejabat lainnya. Alih-alih berpatokan kepada jumlah wisatawan yang masuk, maupun cara pandang yang mengedepankan wisatawan mancanegara sebagai patokan majunya pariwisata daerah. Novrial tidak demikian, kepala dinas yang sudah menjajaki hampir seluruh objek wisata di Sumatera Barat ini menggunakan prinsip “Pitia Masuak”. Novrial tidak berpatokan dengan seberapa banyak wisatawan yang masuk, terutama wisatawan mancanegara. Karena menurutnya, itu tidak bisa diharapkan sebagai pemajuan ekonomi pariwisata.

“Kalau wisatawan mancanegara kalau datang itu backpacker, belanjanya sedikit, lain dengan wisatawan Nusantara, datang ke Sumatera Barat belanjanya banyak, beli, beli, beli. Misal saja belanja songket kami.”

Karena bagi Novrial, tujuan pariwisata itu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karenanya jumlah uang yang masuk itu lebih penting dibandingkan dengan angka wisatawan masuk. Lagipula, menurut Novrial jika hanya mengandalkan wisatawan mancanegara, Sumatera Barat kapan bisa recovery dari kondisi krisis pandemi ini.

Oleh : Bahrul Ulum (PariwisataIndonesia.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *