Mengenal Wisata Museum Tsunami Aceh

Trippers – Museum Tsunami Aceh merupakan monumen simbolis untuk mengenang bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh pada tahun 2004. Bangunan ini menyimpan berbagai bukti kedahsyatan tsunami 2004, serta sebagai pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat ketika terjadi tsunami.

Museum Tsunami Aceh dibangun atas prakarsa beberapa lembaga yaitu Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Daerah Nanggroe Aceh Darussalam, Pemerintah Kota Banda Aceh, dan Ikatan Arsitek Indonesia. Museum ini diresmikan pada tahun 2008. Tujuan pembangunannya selain untuk mengenang gempa bumi yang mengakibatkan tsunami tahun 2004 juga menjadi pusat pendidikan dan pusat evakuasi jika bencana tsunami datang lagi.

Museum Tsunami merupakan hasil rancangan Ridwan Kamil yang kala itu masih berprofesi sebagai arsitektur. Dia memenangkan sayembara tingkat internasional yang diadakan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nangroe Aceh Darussalam bersama Ikatan Arsitek Indonesia.

Foto : travel.wego.com

Museum Tsunami Aceh berlokasi di Jalan Sultan Iskandar Muda, Sukaramai, Baiturrahman, Banda Aceh. Posisinya sangat dekat dengan Masjid Baiturrahman, sekitar 11 menit dengan berjalan kaki atau semenit naik kendaraan.

Awalnya, masuk ke Museum Tsunami gratis, karena adanya kontrak kerja sama dengan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sayangnya, kontrak telah berakhir, sehingga pengunjung dikenakan biaya tiket masuk.

Harganya Rp2.000 untuk anak-anak, pelajar atau mahasiswa, Rp3.000 untuk orang dewasa, dan Rp10 ribu untuk turis asing. Museum Tsunami buka setiap hari. Kamu bisa datang mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Fasilitas di Museum Tsunami sudah cukup lengkap. Toilet, ruang parkir, musala, toko suvenir,

ruang geologi, pusat kuliner, hingga perpustakaan, semuanya tersedia di sini. Museum Tsunami punya beberapa bagian utama yang menarik untuk dieksplorasi. Dilengkapi 22 alat peraga, 7 maket, dan 26 foto mengenai tsunami Aceh.

Foto : travel.okezone.com

Ketika memasukinya, kamu akan melewati sebuah lorong kecil dengan pencahayaan minim. Lorong yang disebut ruang renungan ini akan membuat emosimu campur aduk. Adanya suara azan dan percikan air akan membuat batin kita semakin “tertekan.”

Selanjutnya ada ruang The Light of God (cahaya tuhan). Di sini, kamu bisa melihat ratusan ribu nama korban bencana tsunami Aceh.

Suasana di dalamnya bisa membuat bulu kuduk merinding. Apalagi dengan kondisi cahaya remang dan lantunan ayat suci Alquran. Selanjutnya, kamu akan dibawa ke ruang jembatan harapan. Jalannya dibuat memutar, supaya kamu tahu perjuangan warga Aceh saat berusaha selamat dari bencana tsunami.

Terdapat pula 25 bendera negara yang telah berjasa dalam membantu Aceh pascabencana tsunami. Terakhir, kamu akan dibawa ke lantai teratas untuk melihat ruang evakuasi. Sesuai namanya, tempat memang bertujuan sebagai tempat tinggal sementara saat ada bencana alam.

Sayangnya, kamu tidak bisa masuk ke dalamnya. Tujuannya, supaya ruangan tersebut tetap steril dan selalu siap dipakai kapan pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *