I Komang Wardana Pendiri Sanggar Wit Tonjaya di Bali

I Komang Wardana adalah seorang seniman dan budayawan Bali yang sangat mencintai tanah kelahirannya. Darah seninya mengalir dari sang kakek, yakni Jero Mangku Pande Tapakan dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial baik di masyarakat maupun di pemerintahan.

Ibu Umi Kalsum (CEO PVK Group) yang membawahi situs wisata online Pariwisataindonesia.id, Trippers.id dan Indonesiatraveler.id, berfoto bersama teman-teman putri Sanggar Tari Wit Tonjaya, ada mbak Putu Dita, Ayu Suastini, Komang Cinta, dkk

Jero Mangku Taksu disingkat JM Taksu adalah nama lain dari I Komang Wardana, dan perubahan namanya ini setelah ia dinobatkan sebagai pemangku agama pada tahun 2008.

Awal Pendirian Sanggar

JM Taksu mendirikan Sanggar Wit Tonjaya pada hari Kamis, 08 Februari 1996 dengan murid pertamanya sebanyak 6 orang. Sementara itu, modal untuk mendirikan sanggar ini, diperolehnya dari hasil mentas di Australia.

Siswa-siswi Sanggar Wit Tonjaya sedang mengikuti kenaikan tingkat | Aktivitas luar ruang dan momen ini diabadikan saat sebelum pandemi Covid-19 / Foto: Istimewa

Mengawali kisahnya, saat itu, bercita-cita ingin melestarikan tradisi leluhur Bali yang telah turun temurun melalui Sanggar Wit Tonjaya, dan usaha yang digelutinya ini, bukan semata-mata ditekuni sambilan. Untuk mewujudkan mimpinya, I Komang Wardana penuh totalitas dalam bekerja, pantang menyerah. Pribadinya bermental tangguh, gigih, dan ulet.

Selama itu baik dan banyak memberikan kebermanfaatan, maka, tidak ada kata ‘malu’ dalam melestarikan kesenian dan kebudayaan Bali,” kata JM Taksu.

Buah manis dari perjuangannya yang tak mengenal lelah itu, akhirnya terbayar. Sanggar Wit Tonjaya direspons positif dan didukung penuh oleh masyarakat di wilayah Kota Denpasar dan sekitarnya yang terus memberikan semangat kepadanya agar sanggarnya tersebut tetap lestari. Bahkan, sanggarnya, telah terdaftar secara resmi di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Menyoroti sepak terjangnya sebagai seniman dan budayawan Bali, tak perlu diragukan lagi eksistensinya. Pasalnya, Sanggar Wit Tonjaya berdiri sudah lebih dari 25-tahun. Namun, untuk bertahan dalam kondisi seperti sekarang, “bukan perkara mudah,” ujarnya.

Tak sekedar mengajarkan seni tari dan musik tradisional

Menilik visi dan tujuan Sanggar Wit Tonjaya, tidak sekedar mengajarkan seni tari dan musik tradisional. Sisi lain, mengajak generasi mudanya menjadi anak-anak yang bermanfaat, taat beragama dan menghormati orang tua.

Siswa Sanggar Wit Tonjaya diundang untuk pementasan, momen unjuk kebolehan ini diabadikan saat sebelum pandemi Covid-19 / Foto: Istimewa

Kelak dewasa, jadi orang sukses, diminta agar anak didiknya dapat membahagiakan kedua orangtua dan keluarga serta mampu dalam berkarya untuk nusa dan bangsa, sekaligus mengharumkan nama Indonesia.

Hal itu dilakukannya dengan cara, seperti menanamkan nilai-nilai yang telah mentradisi dalam masyarakat Bali, melestarikan kearian lokal dan tradisi agung orang Bali, dan menyematkan pendidikan budi pekerti berbasis keteladanan.

Pengalaman Tampil

Selanjutnya, ia sering tampil untuk mengisi acara kesenian dan kebudayaan, antara lain mengajar dan mengisi pertunjukkan yang digelar di tingkat sekolah, even di tingkat provinsi, menjadi dalang di pementasan wayang, maupun diminta sebagai pembina tari, dan pembina musik tradisional.

Undangan lain pun datang dari: Kota-kota di luar Bali, kampus, hotel, masyarakat dan ditunjuk untuk mengikuti ajang festival bertaraf nasional dan internasional. Berkat dedikasi dan prestasinya itu, sudah tak terhitung jumlah piala dan anugerah penghargaan yang ia kantongi.

Kepribadian JM Taksu adalah sosok yang rendah hati, penuh welas asih, sabar, berwibawa, mengayomi, gemar memberikan motivasi, taat beragama, dan mencintai silaturahmi. Aktif pula dalam memimpin berbagai macam upacara keagamaan, persembahyangan dan doa sesuai ajaran agama Hindu.

Siswa Sanggar Wit Tonjaya diundang untuk pementasan, momen unjuk kebolehan ini diabadikan saat sebelum pandemi Covid-19 / Foto: Istimewa

Dalam kesehariannya, senantiasa mengedepankan sikap toleransi antar umat bergama dan menjauhkan diri dari sifat yang negatif seperti diskriminasi kepada orang lain; membedakan orang lain berdasarkan agama, ras, gender, dan suku.

Menurutnya, manusia adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan YME. Oleh karenanya, manusia hidup di dunia diminta untuk bersikap adil dan tidak saling menyakiti satu sama lain. Dengan kata lain, manusia juga makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, sudah pasti, membutuhkan peran orang lain.

Berdasarkan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pendiri Sanggar Wit Tonjaya mengatakan, semua warga negara Indonesia ikut memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Di balik maksud ucapannya ini, untuk menerangkan, sifat-sifat buruk yang bernada serupa akan dapat terjangkit kepada siapapun. Penyebabnya, merasa memiliki segala sesuatu. Lalu, lupa diri dan menjadi ‘mentang-mentang’, dia merinci hal itu, antara lain angkuh, besar hati, besar kepala, congkak, jemawa, pongah, sombong, tinggi hati, kata JM Taksu, “ini menjadi godaan bagi mereka yang memiliki kekuasaan.”

Harus ikhlas dan jangan pamrih

Kemudian, ayah tiga anak ini mengajak para seniman dan budayawan di Indonesia, “marilah berbuat dari apa yang kita miliki saat ini dan harus ikhlas, jangan pamrih,” imbaunya.

Suami dari Ni Komang Kembar Ariyasih menambahkan, jangan kotori tangan dengan target lain. Walaupun terselebung dan itu sebesar satu buliran pasir dalam berkarya, Tuhan YME sungguh Maha Tahu.

Lebih lanjut, sambungnya, leluhur bangsa ini pun sudah mengingatkan, yaitu seniman profesinya benar-benar sosial tetapi di balik sosialnya, dan mahakarya yang diciptakannya, harus pandai-pandai dan penuh bijaksana serta arif saat memetik sebagai ladang kehidupan.

Untuk itu, katanya, tetaplah berbuat baik dan teruslah berkarya dengan penuh ikhlas. Sementara, pada bagian rezeki atau mendapatkan manfaat dari hal ini, biarkan menjadi urusan Tuhan YME.

Keteguhan, tekad yang keras, ditambah lagi berkomitmen untuk totalitas yang konsisten berkarya melalui jalur seniman dan budayawan, yakinlah dengan sendirinya, “proses mengikuti hasil,” imbuhnya.

Rezeki Tuhan sudah atur, “sampai sekarang saya meyakini sekali hal ini dan tidak mau meminta-minta, lebih-lebih bersungut-sungut agar diberi iba dan ujungnya dibantu, itu bukan motivasi saya mendirikan Sanggar Wit Tonjaya, termasuk kepada istri dan anak-anak jangan lakukan hal tersebut. Apapun keadaannya, kita harus bisa untuk menjadi tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” kata JM Taksu.

(oleh : Erwin Herlambang | www.pariwisataindonesia.id)


Profil I Komang Wardana :

Nama LengkapI Komang Wardana
Nama Pemangku Agama Jero Mangku Taksu (JM Taksu)
Orangtua
Nama AyahI Wayan Suberata
Nama IbuNi Wayan Sumiasih
Nama KakekJero Mangku Pande Tapakan
Pasangan Ni Komang Kembar Ariyasih
Nama Pemangku AdatJero Mangku Taksu Istri
ANAK
Anak Pertama
Anak Kedua
Anak Ketiga

Ni Putu Rita Pentaswari
I Kadek Panji Pinanda Kusuma
I Komang Danar Viandra Kusuma
Agama
Pendidikan
Hindu
Sarjana Pendidikan (S.Pd) IKIP Bali
Tempat & Tanggal Lahir
Tempat lahir
Tanggal lahir


Denpasar, Bali
22 Februari 1975
PendiriSanggar Wit Tonjaya
Alamat:
Jl. Gunung Agung, Gang 2 D No 5, Denpasar, Desa Pemecutan Kaje, Denpasar Utara, Provinsi Bali.Didirikan pada hari Kamis, 08 Februari 1996 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *