5 Tradisi Khas Sumatera Barat yang Unik

Trippers – Setiap kawasan bumi di Nusantara pasti memiliki tradisi kebanggaan setiap daerah masing-masing. Ada yang tradisinya yang masih original bahkan ada tradisi yang lahir dari proses asimilasi budaya.

Sebagai contohnya adalah kebudayaan di Sumatera Barat yang umum di kenal dengan Tanah Minang. Walaupun telah banyak menerima era modernisasi saat ini, beberapa tradisi berikut masih terjaga kemurniannya. Itulah salah satu bukti kekuatan karakter masyarakat Sumatera Barat untuk menjaganya.

  1. Pacu Jawi
Foto : mediaindonesia.com

‘Pacu Jawi’ yang berarti balapan sapi ini merupakan olahraga tradisional yang umum diadakan di Tanah Datar. Setiap tahunnya dalam satu bulan terdapat empat wilayah yang mengadakan acara ini secara bergiliran. Mulai dari Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Lima Kaum dan Kecamatan Sungai Tarab.

Memang sekilas olahraga ini mirip dengan tradisi di Madura. Hanya saya Pacu Jawi diadakan di tanah berlumpur sehingga nuansanya lebih ekstrim. Makanya acara ini menjadi lebih terkenal dan menjadi sorotan wisata di kawasan Sumatera Barat yang sering diadakan setiap tahunnya dengan sebutan Alek Pacu Jawi.

  1. Kerik Gigi
asdas

Tradisi unik sekaligus ngilu ini merupakan tradisi unik khas Suku Mentawai yang banyak ditemui di Kepulauan Mentawai. Orang Mentawai melakukan tradisi ini khusus bagi kaum perempuan yang telah dianggap dewasa. Nilai dari tradisi ini adalah untuk menambah kecantikan dan juga sebagai simbolisasi kedamaian hati dan pikiran.

Pastinya tradisi ini memiliki rasa ekstrim bagi yang melakukannya. Soalnya tetua adat melakukan ritual ini tanpa adanya obat khusus yang dapat mengurangi rasa sakit. Untuk alatnya, mereka biasanya menggunakan alat berbahan besi atau kayu yang telah ditajamkan.

  1. Upacara Tabuik
Foto : sumbar.travel

Tabuik atau Tabot yang berarti “peti kayu” adalah istilah yang merujuk pada legenda tentang keberadaan makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia yang disebut buraq. Upacara Tabuik merupakan upacara tahunan yang telah dilaksanakan sejak abad ke-19 di Tanah Minang.

Upacara ini sebagai bentuk penghormatan atas meninggalnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib, pada tanggal 10 Muharram.

Upacara Tabuik memiliki dua macam yaitu, Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang namun masih dari satu tempat yaitu Pariaman. Upacara ini sendiri memiliki tujuh rangkain upacara. Acara puncaknya adalah pelaksanaan ritual tabuik naik pangkek yang dilanjutkan dengan hoyak tabuik. Untuk acara penutupan, tabuik tersebut diarak menuju Pantai Gondoriah untuk di layarkan ke lautan bebas.

  1. Batagak Panghulu
Foto : aktaindonesia.com

Tradisi adat kerajaan ini merupakan suatu kegiatan yang mengkultuskan seorang Datuk menjadi seorang Panghulu. Makanya, syarat untuk menjadi seorang Panghulu juga bukan sembarangan. Ada beberapa kriteria khusus yang ditentukan oleh peraturan adat.

Untuk menobatkan seseorang menjadi Panghulu, tidak dapat dilakukan oleh pihak keluarga saja, namun harus ada terlibat pihak Karapatan Adat Nagari. Saat peresmian juga dianggap sah jika berdasarkan petitih turun temurun yaitu “maangkek rajo sakato alam, maangkek panghulu sakato kaum”.

  1. Makan Majamba atau Makan Bararak
Foto : phinemo.com

Tradisi makan Majamba adalah tradisi turun temurun yang berupa kegiatan makan bersama-sama di tempat khusus yang sudah ditentukan. Acara kebersamaan ini sering dilaksanakan pada acara penting. Seperti acara nikahan, acara keagamaan dan kegiatan penting lainnya.

Acara ini bisa dihadiri oleh puluhan bahkan ribuan orang yang nantinya di bagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Kelompok ini kemudian membentuk lingkaran atau memanjang dengan makanan yang sudah dihadapkan. Acara ini bukan hanya memeriahkan, namun juga meningkatkan rasa solidaritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *